Investasi: Jalan Menuju Kemandirian dan Keberkahan Ekonomi Umat.
oleh: Ismiatul Khairiyah, M.E.
Dosen Tetap Program Studi Akuntansi Syariah STEI Masyarakat Madani Pamekasan
Beberapa tahun terakhir, kita semakin sering mendengar kata “investasi”. Tidak hanya di
ruang kuliah atau seminar ekonomi, tetapi juga dalam percakapan sehari-hari, iklan, dan
media sosial. Tapi pertanyaannya: apakah kita sudah benar-benar memahami pentingnya
investasi? Terutama investasi yang selaras dengan nilai-nilai syariah?
Dalam pandangan ekonomi modern, investasi adalah penggerak utama pertumbuhan.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia pada
kuartal I tahun 2025 mencapai 5,11% (yoy), dan salah satu penyumbang utamanya adalah
pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi tetap, yang tumbuh 4,5% (BPS,
2025). Ini menunjukkan bahwa investasi berperan besar dalam membuka lapangan kerja,
mendorong produksi, dan memperkuat daya saing nasional.
Namun, masih ada tantangan besar: rendahnya literasi keuangan syariah yang masih
tertinggal. Menurut hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) tahun
2025, literasi keuangan nasional meningkat menjadi 66,46%, dan literasi keuangan
syariah pun menunjukkan kemajuan dengan capaian 43,42%. Namun demikian, tingkat
inklusi keuangan syariah masih cukup rendah, hanya sebesar 13,41% (OJK & BPS,
2025). Artinya, meskipun semakin banyak masyarakat yang mulai mengenal produk
keuangan syariah, belum banyak yang benar-benar mengakses dan menggunakannya
dalam kehidupan sehari-hari.
Investasi dalam Perspektif Islam
Islam tidak hanya mendorong umatnya untuk bersedekah dan berzakat, tetapi juga untuk
mengembangkan hartanya secara produktif dan halal. Dalam QS. An-Nahl: 71 disebutkan
bahwa Allah memberikan kelebihan rezeki kepada sebagian orang, yang berarti kelebihan
itu perlu dimanfaatkan, bukan disimpan tanpa faedah.
Konsep investasi dalam Islam dikenal dengan istilah istitsmar, yaitu mengelola harta agar
berkembang dengan cara yang adil dan halal. Investasi syariah menghindari riba, gharar
(ketidakpastian), dan maisir (spekulasi), serta mengedepankan keadilan dan transparansi.
Saat ini, pilihan instrumen investasi syariah sangat beragam: sukuk negara, saham
syariah, reksadana syariah, hingga fintech berbasis peer-to-peer lending.
Nilai outstanding sukuk negara per Mei 2025 telah mencapai Rp1.530 triliun, meningkat
dibandingkan tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa semakin banyak masyarakat
dan institusi yang percaya pada instrumen investasi halal dan aman (DJPPR Kemenkeu,
2025).
Akses Investasi Kini Semakin Mudah
Salah satu kabar baik adalah, hari ini investasi tidak lagi identik dengan angka besar.
Lewat platform digital seperti Bibit Syariah, Ajaib Syariah, hingga Ethis Indonesia, siapa
pun bisa mulai berinvestasi hanya dengan Rp10.000. Bahkan ada platform yang
menghubungkan dana umat untuk membiayai proyek sosial seperti pembangunan rumah
layak, pertanian, dan UMKM.
Investasi bukan hanya tentang menambah kekayaan, tapi juga membuka jalan untuk
keberkahan dan pemberdayaan. Kita bisa menjadi bagian dari solusi atas kesenjangan
ekonomi di sekitar kita.
Peran Generasi Muda dan Edukasi Berkelanjutan
Menurut survei Katadata Insight Center (2023), 59% anak muda Indonesia (milenial dan
Gen Z) belum memiliki portofolio investasi. Namun, data terbaru per April 2025
menunjukkan bahwa lebih dari 54% investor pasar modal Indonesia berasal dari usia di
bawah 30 tahun, yang menjadikan mereka mayoritas pelaku pasar investasi aktif. Ini
menunjukkan bahwa terjadi perubahan positif dalam perilaku investasi anak muda.
Meskipun demikian, edukasi yang membumi dan berkelanjutan masih dibutuhkan agar
lebih banyak lagi generasi muda yang memahami dan memilih instrumen investasi yang
halal dan produktif.
Para pendidik, da’i, dan media memiliki peran penting untuk mengenalkan konsep
investasi syariah kepada generasi muda. Literasi investasi tidak harus dimulai dari angka
dan teori rumit, cukup dengan kisah inspiratif, testimoni pelaku, atau praktik sederhana
seperti mengenal reksa dana syariah dan sukuk ritel.
Kunci Kemandirian Ekonomi Umat
Investasi syariah bisa menjadi salah satu solusi untuk membangun kemandirian ekonomi
umat. Kita tahu bahwa sektor UMKM menyerap lebih dari 97% tenaga kerja Indonesia
dan menyumbang 61% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), namun masih
menghadapi keterbatasan akses pembiayaan (Bank Indonesia, 2024). Investasi yang
terarah ke sektor produktif ini bisa menjawab kebutuhan tersebut.
Investasi, jika dilakukan dengan niat yang benar, cara yang halal, dan tujuan yang mulia,
tidak hanya akan menguntungkan secara materi, tetapi juga memberi keberkahan dan
manfaat bagi sesama. Sudah saatnya kita memandang investasi bukan sebagai sesuatu yang mewah, tapi sebagai bagian dari tanggung jawab kita sebagai muslim yang peduli
masa depan.
Daftar Rujukan:
1. BPS. (2025). Ekonomi Indonesia Triwulan I-2025.
https://www.bps.go.id/pressrelease/2025/05/07/1906/ekonomi-indonesiatriwulan-i-2025-tumbuh-5-11-persen.html
2. OJK. (2023). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan 2022.
https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OJK-Rilis-HasilSurvei-Nasional-Literasi-dan-Inklusi-Keuangan-2022.aspx
3. DJPPR Kemenkeu. (2025). Statistik Sukuk Negara.
https://www.djppr.kemenkeu.go.id
4. Bank Indonesia. (2024). Profil UMKM di Indonesia.
https://www.bi.go.id/id/publikasi/laporan/umkm/Default.aspx
5. Katadata Insight Center. (2023). Survei Perilaku Investasi Anak Muda Indonesia.
6. OJK & BPS. (2025). Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025.
https://www.ojk.go.id/id/berita-dan-kegiatan/siaran-pers/Pages/OJK-dan-BPSUmumkan-Hasil-Survei-Nasional-Literasi-Dan-Inklusi-Keuangan-SNLIK-Tahun-
2025.aspx
7. Republika & Goodstats. (2025). Statistik Investasi Generasi Muda.
https://www.republika.id/posts/58023/membekali-gen-z-berinvestasi-di-pasarmodal


